Dewan Pendidikan Soroti Hyper Parenting yang Bisa Membentuk Generasi Lemah

Prof. Martadi Ketua Dewan Pendidikan Kota Surabaya menyoroti fenomena hyper parenting atau pola asuh orang tua yang terlalu protektif sebagai salah satu tantangan pendidikan saat ini. Menurutnya, fenomena tersebut justru banyak muncul di kalangan orang tua yang memiliki tingkat pendidikan dan kemampuan ekonomi cukup baik.

“Hyper parenting itu adalah kalangan orang tua yang sebenarnya terdidik dan punya kemampuan ekonomi yang baik, tapi justru mereka menjadi overprotective kepada anak itu,” kata Martadi saat on air di program talkshow Semanggi Suroboyo di Radio Suara Surabaya, Jumat (16/10/2026).

Sikap terlalu protektif itu, kata dia, bisa membuat orang tua berusaha menghilangkan seluruh kesulitan yang seharusnya menjadi bagian dari proses belajar anak.

“Jadi kalau perlu anakku itu ojo ono kesulitan, semua harus disiapkan. Bahkan kalau perlu PR, tugas pun saya yang mengerjakan, jangan anak saya,” ujarnya mencontohkan.

Martadi mengingatkan, pola pengasuhan seperti itu justru berpotensi membentuk generasi yang lemah ketika menghadapi persoalan. “Padahal kita diamanahkan untuk melahirkan generasi yang kokoh, ke depan semakin berat, semakin kompetitif,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan bukan berarti membuat anak tumbuh tanpa pernah menghadapi kesulitan. Menurutnya, anak yang bisa menyelesaikan kesulitan atau masalah, kelak akan jadi pribadi yang luar biasa.

Fenomena tersebut juga terlihat dalam respons sebagian orang tua terhadap kegiatan kedisiplinan atau pembentukan karakter di sekolah, seperti piket kebersihan.

Martadi mencontohkan praktik pendidikan di Jepang yang membiasakan anak mengambil bagian dalam pekerjaan sederhana di sekolah untuk membangun rasa tanggung jawab.

“Kenapa di sana sampai anak kaisar saja bisa ikut itu? Karena orang tua sadar bahwa itu adalah bagian untuk membangun karakter untuk anak-anak. Bagaimana dia bertanggung jawab, bagaimana dia peduli dengan lingkungan, bagaimana kemudian membangun rasa kebersamaan dengan teman-teman, melayani,” ujarnya.

Martadi menilai sekolah dan orang tua harus menyamakan perspektif bahwa berbagai proses pendidikan tidak semata-mata mengejar nilai akademik. Apalagi, tantangan yang akan dihadapi anak pada masa mendatang dinilai semakin kompetitif.

“Ke depan itu tidak lebih mudah, tapi lebih kompetitif, lebih struggle. Maka kita harus meletakkan karakter-karakter sejak dini agar kelak ketika anak betul-betul hidup di eranya itu kokoh,” katanya.

Ia menegaskan, tujuan akhir pendidikan jauh lebih besar daripada sekadar memastikan anak lulus sekolah.

“Hari ini anak lulus ujian sekolah itu penting. Tapi jauh yang lebih penting adalah anak lulus ujian kehidupan. Karena kata kunci sekolah adalah menyiapkan anak untuk hidup,” pungkas Martadi. (bil/ipg)

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *