Febrina Kusumawati Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya mengakui jumlah guru di Surabaya saat ini masih kurang. Hal itu disampaikan Febrina merespons keluhan sejumlah pendengar Radio Suara Surabaya terkait kekurangan tenaga pengajar di sekolah, yang mengharuskan ada rombongan belajar (rombel) di lingkungan sekolah.
“Ya, jadi saya mohon maaf, hari ini saya menyampaikan ke ruangan ini (studio Suara Surabaya) kepada semua wali murid di Kota Surabaya. Hari ini memang secara jumlah guru kita kurang. Itu saya sampaikan dan kami juga sudah suarakan itu ke pusat, ke kementerian,” ujar Febrina saat mengisi program talkshow Semanggi Suroboyo di Radio Suara Surabaya, Jumat (16/10/2026).
Lebih rinci, Febrina menyebut kekurangan guru di Surabaya saat ini mencapai sekitar 1.800 orang. “Kalau angka kita sampai hari ini sekitar 1.800 untuk semuanya,” kata Febrina.
Selama tambahan tenaga pendidik belum tersedia, lanjutnya, pemerintah kota telah bekerja sama dengan perguruan tinggi di Surabaya yang memiliki program kependidikan.
Mahasiswa yang sedang menjalani magang, dapat membantu mengisi jam kosong setelah guru utama memberikan materi. Tapi Febrina menegaskan, mahasiswa itu bukan menggantikan peran guru utama.
Kolaborasi itu dilakukan agar kelas tidak kosong ketika guru harus berpindah mengajar ke kelas lain. “Itu kita bantukan untuk menopang kebutuhan, tapi bukan menggantikan. Jadi hanya nambal,” katanya.
Selain mahasiswa magang, Dispendik juga menggandeng lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang sudah dinyatakan lulus. Mereka diberi kesempatan melakukan pengabdian selama tiga bulan di sekolah-sekolah negeri Surabaya.
Febrina memastikan lulusan PPG tersebut sudah memiliki kompetensi sebagai guru. “Sudah, sudah lulus jadi guru,” ujarnya.
Kekurangan guru juga membuat sejumlah sekolah harus menyesuaikan proses belajar. Dalam kondisi tertentu, dua rombongan belajar dapat digabung dalam satu ruang agar tetap bisa mengikuti pelajaran dari satu guru.
Febrina mencontohkan, jika seharusnya ada dua guru matematika untuk dua kelas tetapi hanya tersedia satu guru, maka dua kelas tersebut bisa digabung sementara. “Ini kita enggak ada pilihan. Itu pilihan yang harus kita lakukan supaya siswa tidak kosong,” katanya.
Ia meminta pengertian orang tua karena langkah tersebut dilakukan sebagai solusi sementara di tengah keterbatasan tenaga pengajar.
Febrina mengatakan Pemkot Surabaya juga menyiapkan penambahan tenaga guru pada tahun depan. Langkah itu diharapkan bisa menutup kekurangan tenaga pengajar yang masih terjadi di sejumlah sekolah.
“Tahun depan insyaallah, ini Pak Wali juga sudah perintah kepada saya, hire-lah guru untuk benar-benar bisa menutup lubang-lubang itu di tahun depan,” pungkasnya. (bil/iss)
