Pemerintah menegaskan komitmennya menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah, meski pemadaman terkendala kemarau panjang, minimnya awan hujan, keterbatasan jarak pandang, hingga karakteristik lahan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan tanah.
Raja Juli Antoni Menteri Kehutanan mengatakan, pemerintah terus mengerahkan berbagai upaya untuk memadamkan api sekaligus menekan dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat, terutama risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
“Pemerintah tidak cuci tangan, tidak lepas tangan, bahkan sebenarnya hadir semaksimal mungkin untuk memastikan bahwa api padam dan kemudian juga asap tidak membuat lebih banyak lagi masyarakat kita yang kena ISPA,” kata Raja Juli Antoni di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Sabtu (17/10/2026) malam.
Raja Juli mengakui penanganan karhutla masih menghadapi tantangan serius karena hujan alami diperkirakan belum turun secara merata di wilayah Kalimantan Tengah hingga November 2026.
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sejumlah wilayah diperkirakan baru mengalami hujan pada dasarian ketiga November.
