Perkembangan gim game menghadirkan tantangan baru dalam upaya mencegah intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET).
Platform yang umumnya digunakan sebagai sarana hiburan berpotensi disalahgunakan untuk menyebarkan propaganda kekerasan hingga merekrut anak muda yang rentan terpapar paham ekstrem.
Angel Damayanti Guru Besar Ilmu Keamanan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kristen Indonesia (FISIPOL UKI) menegaskan, gim daring bukan penyebab langsung radikalisme.
Risiko muncul ketika fitur komunikasi dan interaksi di dalamnya dimanfaatkan kelompok ekstremis untuk menyebarkan kebencian, menormalisasi kekerasan, membangun loyalitas eksklusif, hingga merekrut individu yang rentan.
“Game online bukanlah penyebab langsung terjadinya radikalisme karena kebanyakan pemain tidak memiliki hubungan dengan ekstremisme. Risiko muncul ketika media ini dimanfaatkan untuk menyebarkan kebencian, menormalisasi kekerasan, membangun loyalitas eksklusif, dan merekrut individu yang rentan seperti remaja dan anak muda,” ujar Rektor UKI periode 2026–2030 di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).
