Bezalel Smotrich Menteri Keuangan Israel dari kelompok sayap kanan menyerukan agar militer negaranya melancarkan perang di wilayah pendudukan Tepi Barat seperti operasi militer yang telah dilakukan di Jalur Gaza.
Melansir Al Jazeera, dalam wawancara yang diterbitkan, Minggu (27/9/2026), Smotrich menyatakan Israel perlu membubarkan Otoritas Palestina sebagai bagian dari operasi militer tersebut.
“Saya pikir kita perlu berperang di Yudea dan Samaria, melakukan di sana apa yang telah kita lakukan di Gaza, membubarkan Otoritas Palestina, yang merupakan otoritas teror,” kata Smotrich menggunakan istilah Alkitab untuk menyebut Tepi Barat.
Pernyataan itu disampaikan ketika Smotrich ditanya mengenai langkah Israel dalam menghadapi peningkatan ketegangan keamanan di Tepi Barat. Menurutnya, militer Israel harus memastikan tidak ada infrastruktur yang dapat digunakan untuk melancarkan serangan di wilayah tersebut, sebagaimana operasi yang dilakukan terhadap Hamas di Gaza.
Ia juga menyerukan agar tidak ada kelompok bersenjata, senjata, maupun terowongan yang dapat digunakan untuk melakukan serangan. Seruan Smotrich muncul di tengah meningkatnya kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat, sejak pecahnya perang di Gaza pada Oktober 2023.
Berdasarkan laporan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), lebih dari 1.330 serangan oleh pemukim ilegal Israel terhadap warga Palestina tercatat sejak Januari hingga 20 Juli 2026. Jumlah tersebut setara dengan lebih dari enam serangan setiap hari dan menjadi tingkat tertinggi dalam catatan OCHA.
Serangan yang terjadi meliputi penembakan, penyerangan rumah, perusakan properti, hingga kekerasan terhadap masyarakat Palestina. Sejumlah organisasi hak asasi manusia juga memperingatkan semakin banyak pemukim yang menggunakan senjata dan seragam militer dalam serangan mereka.
Di sisi lain, otoritas Israel memberlakukan penutupan militer menyeluruh di Tepi Barat dengan alasan perayaan hari raya Yahudi, Sukkot. Pembatasan pergerakan warga Palestina tersebut dijadwalkan berlangsung hingga 3 Oktober 2026.
Sementara itu, kantor berita Palestina WAFA melaporkan sejumlah pemukim Israel memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur pada Minggu, dengan pengawalan ketat kepolisian Israel.
Mereka dilaporkan memasuki kompleks melalui Gerbang Maroko dan melakukan ritual keagamaan, sementara aparat Israel memperketat pembatasan akses di sekitar Masjid Al-Aqsa dan kawasan Kota Tua Yerusalem. (bil/ham)
