Badan pengawas kepolisian Prancis membuka 36 kasus penyelidikan mengenai perilaku aparat dari awal berlangsungnya aksi protes oleh para siswa sekolah menengah atas (SMA) di negara itu, dikutip stasiun televisi BFMTV pada Selasa (13/10/2026).
Berdasarkan keterangan otoritas di Prefektur Rhone, di Kota Lyon sebanyak 11.000 orang turun ke jalan, sembilan orang ditangkap dan lima orang terluka, termasuk empat anggota polisi bersenjata atau gendarmerie.
Pihak prefektur menyampaikan ratusan orang itu merusak fasilitas umum, tempat usaha, dan melemparkan benda-benda tajam kepada pasukan keamanan pada saat aksi unjuk rasa.
Laurent Nunez Menteri Dalam Negeri Prancis membenarkan penangkapan yang dilakukan aparat dalam sidang parlemen. Menurutnya, petugas perlu turun tangan ketika unjuk rasa berubah menjadi kekerasan atau perusakan.
“Ketika unjuk rasa berlangsung secara damai, tidak ada penangkapan oleh polisi. Namun, ketika terjadi tindakan kekerasan, barulah ada penahanan,” kata Nunez, dilansir Antara.
Edouard Geffray Menteri Pendidikan Prancis menyebutkan 88.000 siswa SMA telah berpartisipasi dalam platform konsultasi pemerintah untuk mengumpulkan aspirasi dari kaum muda.
Sementara itu, Sophie Binet pemimpin serikat pekerja CGT, menyerukan aksi mogok kerja dan demonstrasi nasional pada 5 November nanti untuk menuntut kenaikan upah, penambahan dana untuk layanan publik, serta penghematan anggaran.(ant/fia/kir/ipg)
