Jumlah kasus tuberkulosis di Indonesia masih terus tinggi hingga tahun 2024. Bahkan data tahunan terakhir pada 2023 lalu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes)
Tuberkulosis (TBC) masih jadi salah satu penyakit mematikan hingga saat ini. Bahkan, menurut
Firman Ardiansyah penyintas tuberkulosis resisten obat (TBC RO) mengaku sempat tidak bisa beraktivitas normal saat melakukan pengobatan delapan tahun lalu.
Bukan karena lingkungan, tetapi efek samping yang dia dapat setelah minum obat, membuat tubuhnya tidak bisa melakukan aktivitas normal seperti, bekerja.
Selama menjalani pengobatan TBC RO dua tahun, Firman terpaksa berhenti dari pekerjaannya untuk fokus pada pengobatan.
“Sebenarnya saya sudah bilang ke kantor soal masa pengobatan. Tapi, justru saat berobat, efek sampingnya yang bikin saya lemas,” terang Firman dalam program Semanggi Suroboyo, Jumat (12/7/2024) pagi, membahas soal penanganan kasus TBC di Kota Surabaya.
Hal itu juga dibenarkan oleh dr. Tutik Kusmiati, SpP(K) ketua Koalisi Organisasi Profesi Indonesia untuk Penanggulangan Tuberkulosis (KOPI TB) Surabaya. Kasus TBC RO, menurut Tutik, biasanya terjadi akibat pasien yang nakal.
“Pengobatan TBC itu biasanya tidak dilakukan dengan obat tunggal. Misal, dari empat obat yang diberikan dokter, oleh pasien biasanya hanya diminum tiga. Ini yang menyebabkan kuman TBC bermutasi,” jelas Tutik.
Jika kuman TBC sudah bermutasi, maka pengobatannya harus dengan lini dua yang mempuanyai efek samping lebih banyak.
“Efek samping yang dirasakan pasien saat mengonsumsi obat untuk TBC RO biasanya, mual, muntah, pusing, mata berkunang-kunang, dan sensitif dengan cahaya. Sehingga, akan tidak nyaman saat beraktivitas,” ungkapnya.
Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat jumlah kasus Tuberkulosis (TBC) di Kota Surabaya mencapai 5.800 kasus hingga akhir Juni 2024. Wilayah dengan kasus terbanyak yaitu Surabaya Utara, diikuti oleh daerah Barat dan Timur.
Nanik Sukristina Kepala Dinkes Kota Surabaya menyebut, jumlah itu didapatkan berdasarkan upaya aktif pemerintah kota (Pemkot) melakukan screening dengan harapan bisa menemukan kasus sebanyak-banyaknya, sehingga bisa melakukan pengobatan secepat-cepatnya.
“Setiap bulan kita lakukan screening. Jadi kalau kemarin angka (bulan) Mei itu 3.000, untuk angka sampai dengan 30 Juni itu kita sudah 5.800 kasus. Kalau dari targetnya sih untuk (penemuan) kasus di Kota Surabaya itu 14 ribuan (tahun 2024),” ujar Nanik. (kir)
