Akhir-akhir ini, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mendominasi pemberitaan di berbagai media massa. Sejumlah wilayah di Sumatera, Kalimantan, Papua, Maluku, hingga NTB seolah ‘kompak’ membentuk rangkaian cincin api.
Meski dampaknya tidak seheboh di Kalimantan atau Sumatera, kondisi di sejumlah titik Pulau Jawa tidak lebih baik. Kawasan konservasi seperti savana Gunung Bromo dan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen pun tidak luput dari amuk si jago merah.
Sungguh ironi dan memprihatinkan. Di satu sisi, belum terlihat tanda-tanda pemerintah mampu memitigasi dampak ‘rutin’ tahunan tersebut. Di sisi lain, masih banyak warga berlalu-lalang tanpa mengenakan masker di tengah kepungan asap.
Apakah publik belum memahami dampak polusi asap karhutla sebagai kondisi darurat gangguan kesehatan masyarakat?
Kabar meninggalnya tiga orang akibat kabut asap di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, sontak mengagetkan. Meski belum dikonfirmasi secara resmi oleh dinas terkait, dari perspektif medis risiko tersebut sangat mungkin terjadi.
