Kualitas udara di Kalimantan imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kian memburuk. Selain itu, minimnya peralatan di lapangan membuat upaya pemadaman cukup sulit dan mengancam keselamatan, baik bagi para relawan maupun warga terdampak.
Agam Rinjani seorang relawan yang turun langsung memadamkan api di Palangka Raya dan Taman Nasional Sebangau sejak 9 September 2026 lalu, menceritakan beratnya perjuangan di lapangan.
Luasnya lahan gambut yang terbakar tidak sebanding dengan jumlah personel dan keterbatasan alat keselamatan (safety gear).
“Memadamkan api di lahan gambut itu setengah mati. Meski bagian atas tampak padam, titik api di kedalaman hingga 8 meter di bawah tanah masih menyala. Dipadamkan pakai nozzle sampai jadi kubangan pun, sejam kemudian api keluar lagi. Bahkan pemadaman lewat helikopter hanya jadi embun karena airnya tidak pernah benar-benar sampai ke dasar,” kata Agam, dalam diskusi daring yang digelar Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga (RSKKA) Universitas Airlangga (Unair) pada Sabtu (24/10/2026).
Agam mengaku hanya mampu bertahan empat hari di lokasi pemadaman karena sesak napas akibat pekatnya asap, hingga akhirnya tumbang terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
