Akademisi hingga Praktisi dari Lima Negara Dorong Penguatan Hilirisasi Riset Vokasi

Sebanyak 100 akademisi hingga praktisi dari Indonesia, Vietnam, Tailan, Filipina, dan Malaysia membahas hilirisasi riset vokasi dalam The 8th International Conference on Vocational Innovation & Applied Sciences (ICVIAS) 2026 di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya.

Nove Eka Variant Anna, Ketua Pelaksana ICVIAS 2026 mengatakan, konferensi internasional yang mengangkat tema “Apprenticeship Solutions” itu, mendorong hasil riset mahasiswa dan dosen tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dikembangkan menjadi produk inovasi yang siap dimanfaatkan masyarakat dan industri.

“Hasil riset diharapkan tidak hanya berakhir sebagai publikasi jurnal atau paper, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk nyata yang berpeluang dipasarkan dan dikomersialkan,” terangnya, Jumat (16/10/2026).

Ia menjelaskan, forum tersebut tidak hanya menjadi wadah untuk mempresentasikan hasil penelitian, tetapi juga mendorong perlindungan kekayaan intelektual, salah satunya lewat lokakarya paten yang diselenggarakan dalam rangkaian konferensi.

Upaya itu, lanjut dia, untuk menjadikan inovasi yang telah dihasilkan di lingkungan pendidikan vokasi memiliki nilai guna dan peluang pengembangan lebih lanjut, baik untuk kebutuhan industri maupun masyarakat.

“Konferensi ini juga menjadi kesempatan untuk membangun jejaring internasional yang berkelanjutan. Kolaborasi antarinstitusi diharapkan dapat berlanjut dalam bentuk kerja sama riset dan mobilitas mahasiswa pada tahun-tahun mendatang,” ujarnya.

Tahun ini, penyelenggaraan ICVIAS melibatkan Departemen Teknik Fakultas Vokasi Unair yang meliputi bidang Teknologi Informasi, Teknik Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol, serta D4 Kearsipan dan Informasi Digital.

Prof. Dian Yulie Reindrawati Dekan Fakultas Vokasi Unair mengatakan, konferensi tahun ini berfokus pada inovasi yang berkaitan dengan teknologi informasi serta penerapannya di sektor industri, kesehatan, dan pengelolaan informasi.

“Karena host-nya kebetulan Departemen Teknik, sehingga inovasi-inovasinya yang terkait di bidang informasi, kemudian teknologi terkait dengan teknologi untuk industri dan untuk kesehatan dan bermacam-macam,” jelasnya.

Beragam inovasi yang dikembangkan mahasiswa dan dosen ditampilkan dalam konferensi tersebut. Karya-karya itu mencakup sistem berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), analisis data besar (big data), hingga sistem pemindai dokumen untuk mendeteksi keaslian.

Selain itu, sejumlah terobosan yang dipresentasikan dala  konferesi tersebut juga terdapat sistem pemesanan tiket, sistem antrean bus, dan alat pemantau kesehatan.

Dian menyebut pengembangan teknologi itu diarahkan untuk mendukung pekerjaan profesional di berbagai sektor.

“Jadi semua teknologi yang dihasilkan oleh teman-teman mahasiswa, dosen yang dipresentasikan dalam konferensi ini, semuanya berbasis AI, berbasis teknologi informasi, berbasis big data dan lain sebagainya,” katanya.

Pihaknya berharap, langkah tersebut dapat mendorong pengembangan riset terapan yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga menghadirkan solusi inovatif yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Jadi, kita mempersiapkan teman-teman atau mahasiswa maupun lulusan dengan riset dan lain sebagainya untuk bagaimana kita berkonsentrasi ke work-ready solutions, terutama dari sisi AI. Bagaimana mereka aware terhadap itu,” ucapnya.

Seperti diketahui, ICVIAS merupakan konferensi internasional yang rutin diselenggarakan setiap tahun untuk mendorong pengembangan riset dan inovasi di bidang vokasi.(ris/iss)

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *