Putu Anom Mahadwartha Dekan Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Surabaya (Ubaya) menilai penghentian sementara perdagangan atau trading halt oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (16/10/2026) pagi, bukan karena fundamental pasar modal Indonesia sedang buruk.
Menurutnya, persoalan utama saat ini justru ada pada kepercayaan investor. “Fundamental kita itu bagus sebenarnya. Ketika fundamental kita bagus, yang enggak bagus itu kepercayaan investor,” katanya saat on air di Radio Suara Surabaya, Jumat siang.
Sebagai informasi, BEI menghentikan sementara perdagangan saham pada pukul 09.00 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS), setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari delapan persen.
IHSG saat pembukaan perdagangan anjlok 469,86 poin atau 8,01 persen ke posisi 5.393,92. Perdagangan kemudian kembali dilanjutkan sekitar pukul 09.30.
Putu mengatakan, tekanan terhadap pasar memang datang dari sejumlah faktor. Mulai dari kondisi geopolitik global, tekanan inflasi Amerika Serikat, perang yang mendorong kenaikan harga minyak dunia, hingga sentimen dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).
“Jadi enyebabnya itu banyak sebenarnya, tapi selalu nanti indikasinya kalau dari sisi bursa akan mengatakan ada geopolitik global. Geopolitik global, kemudian ada tekanan inflasi dari Federal Reserve Amerika, kemudian juga perang yang menyebabkan harga minyak dunia menjadi naik,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti besarnya aliran dana asing yang keluar dari pasar modal Indonesia. Menurut Putu, nilai penjualan bersih atau net sales investor asing mencapai sekitar Rp48 triliun hingga Rp54 triliun. Kondisi itu, kata dia, menunjukkan investor asing sedang mencari tempat yang dinilai lebih aman untuk menyimpan dananya.
Di sisi lain, ulasan MSCI terhadap pasar modal Indonesia ikut memengaruhi kepercayaan investor. Putu menyebut isu transparansi kepemilikan saham dan penegakan hukum juga menjadi perhatian pasar. Meski begitu, Putu menegaskan fundamental emiten di Indonesia, terutama saham-saham blue chip, masih cukup kuat.
“Fundamental saham-saham emiten kita terutama yang blue chip itu masih menjanjikan, masih menjanjikan dan cenderung sebenarnya bagus dan kuat,” ujarnya.
Menurutnya, tekanan lebih banyak datang dari faktor global dan menurunnya kepercayaan investor asing terhadap pasar modal di Indonesia.
“Ada kecenderungan dari pasar terutama investor asing itu yang tidak mempercayai pasar modal Indonesia dengan cara gimana? Ya keluarlah duitnya di mereka. Kalau mereka keluar ya artinya pasti akan terjadi penurunan indeks karena duit mereka cukup besar sebenarnya,” kata Putu
Putu juga menyoroti rencana demutualisasi BEI dan kemungkinan masuknya Danantara sebagai pemegang saham bursa. Menurutnya, hal itu justru bisa menimbulkan kekhawatiran soal konflik kepentingan karena Danantara juga mengelola banyak BUMN, yang sahamnya diperdagangkan di BEI.
Karena kondisi pasar dan geopolitik belum stabil, ia menyarankan rencana tersebut ditunda. “Saya rasa belum saatnya untuk masuk sekarang. Kenapa? Karena situasi geopolitik masih enggak bagus, pasar kita masih disorot oleh pemeringkat asing. Beberapa case-case yang terjadi dengan pembelian saham di Indonesia juga masih punya kendala begitu, saya rasa itu harus di pending dulu deh demutualisasinya,” ujarnya.
Ia justru menyarankan supaya pemerintah lebih aware dengan kebijakan fiskalnya. Program yang dinilai memberatkan APBN, menurutnya harus sedikit dikurangi.
“Saya rasa Pak Suahasil (Menteri Keuangan) sebagai akademisi itu sudah cukup bagus mengikuti model yang sekarang dengan lebih berhati-hati. Namun tentu saja kalau mau lebih berhati-hati lagi memang beberapa kebijakan fiskal yang kira-kira mengeluarkan terlalu banyak uang dari APBN itu sebaiknya mulai dikurangi sedikit. Itu kalau berani gitu ya,” jelasnya.
Sementara kepada investor domestik, Putu menyarankan agar mulai mencari saham-saham yang harganya sudah turun cukup jauh, tetapi tetap punya fundamental baik. Ia menyebut strategi itu sebagai scraping.
“Jadi, mencoba membeli saham-saham yang sudah cukup murah dengan fundamental yang baik. Itu saran saya buat investor domestik kita,” katanya.
Menurut Putu, saham dengan harga di kisaran Rp100 sampai Rp500 bisa mulai dicermati. Namun, ia mengingatkan agar investor berhati-hati terhadap saham di bawah Rp50 karena cenderung lebih spekulatif.
Setelah perdagangan kembali dibuka, Putu melihat kondisi pasar mulai lebih tenang. Ia mengatakan jarak antara pergerakan harga dan volume transaksi mulai tidak terlalu lebar dibandingkan saat awal perdagangan.
“Setelah kejadian ini kita tentu harus melihat juga bagaimana reaksi dari investor asing ketika mereka akan terutama di menit-menit awal pembukaan transaksi di hari Senin. Kenapa itu penting? Karena 15 menit pertama di hari Senin itu adalah menit-menit yang menentukan pembukaan harga dari masing-masing saham,” jelasnya. (bil/ipg)
