Pemerintah Provinsi Jawa Timur membuka peluang bagi swasta untuk berinvestasi membangun cold storage di kawasan pelabuhan perikanan. Penambahan fasilitas penyimpanan dingin dinilai masih dibutuhkan untuk menampung hasil tangkapan sekaligus menjaga pasokan ikan saat produksi menurun.
Muhammad Isa Anshori Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur mengakui kapasitas cold storage yang tersedia saat ini belum mencukupi kebutuhan sektor perikanan di Jatim. Kondisi itu terutama terasa karena produksi ikan sangat dipengaruhi musim dan kondisi cuaca.
Menurutnya, cold storage dibutuhkan untuk menyimpan ikan ketika hasil tangkapan melimpah. Stok tersebut kemudian bisa dikeluarkan ketika produksi berkurang, sementara permintaan pasar tetap tinggi.
“Jadi kan memang masalahnya ketika permintaan memuncak itu kan harus disimpan. Ketika suplainya menurun, tapi permintaan tetap tinggi, nah itu perlulah cold storage,” kata Isa dalam talkshow Merawat Bumi Majapahit di Radio Suara Surabaya, Selasa (13/10/2026).
Karena kebutuhan tersebut cukup besar, Pemprov Jatim mendorong keterlibatan pelaku usaha. Pemerintah, kata Isa, tidak ingin pembangunan fasilitas pendukung sektor perikanan hanya bergantung pada anggaran pemerintah.
Pemprov bahkan menawarkan kawasan pelabuhan yang dikelolanya sebagai lokasi investasi dan siap membantu proses perizinan hingga penyediaan lahan.
“Silakan swasta yang mau investasi di cold storage, kita bantu perizinannya, kita siapkan lahannya. Sewanya pasti murah karena itu pemberdayaan. Silakan saja karena memang kita akui butuh cold storage,” ujarnya.
Saat ini Pemprov Jatim memiliki 22 pelabuhan perikanan yang dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas nelayan dan pelaku usaha. Selain tempat pendaratan ikan, sejumlah pelabuhan telah dilengkapi fasilitas seperti tempat pelelangan ikan hingga cold storage.
Namun, Isa menegaskan jumlah fasilitas penyimpanan dingin tersebut masih kurang. Peluang pembangunan fasilitas baru menurutnya tersedia di berbagai daerah, termasuk Probolinggo dan Tuban.
“Di Probolinggo masih potensi. Di Tuban juga masih. Hampir semuanya potensi. Kita siapkan, lahan kita siapkan di pelabuhan kita,” katanya.
Kebutuhan cold storage juga berkaitan dengan karakter produksi perikanan yang bersifat musiman. Pada periode tertentu hasil tangkapan suatu jenis ikan dapat meningkat, kemudian berkurang ketika kondisi laut dan musim berubah. Fasilitas penyimpanan dingin diperlukan agar hasil tangkapan saat produksi tinggi tidak langsung membanjiri pasar dan tetap dapat dimanfaatkan saat pasokan berkurang.
Peluang investasi tersebut juga ditopang besarnya sektor perikanan Jawa Timur. Pada 2025, produksi perikanan tangkap Jatim mencapai sekitar 607 ribu ton. Selain hasil tangkapan dari nelayan lokal, sejumlah ikan dari kawasan Indonesia timur juga didaratkan di Jawa Timur karena ekosistem bisnis, pelabuhan, serta industri pengolahan yang telah berkembang.
Isa menilai rantai bisnis perikanan di Jawa Timur masih memiliki ruang besar bagi investor, tidak hanya pada sektor produksi, tetapi juga fasilitas pendukung dari hulu hingga hilir.
“Sektor kelautan perikanan di Jawa Timur luar biasa. Jadi dari hulu sampai hilir itu secara ekosistem bisnis sangat menguntungkan. Silakan pada pelaku usaha yang ingin berinvestasi, kami siap untuk memfasilitasi,” pungkasnya.(iss/ham)
