Andi Amran Sulaiman Menteri Pertanian RI mengklaim cadangan pangan nasional aman di tengah potensi kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah Indonesia hingga Desember 2026.
Hal tersebut diutarakan Mentan usai mengikuti Rapat Paripurna Istimewa Hari Jadi ke-81 Jawa Timur di Gedung DPRD Jawa Timur, Senin (12/10/2026) petang kemarin.
Pada kesempatan itu, Amran menepis potensi kemarau panjang dengan menyebut bahwa sebagian wilayah di Indonesia sudah mulai memasuki musim penghujan seperti di Jakarta, Sulawesi hingga Ambon.
“Coba kalimatnya diubah. Sekarang sudah mulai hujan, Jakarta tadi malam hujan, kemudian Sulawesi hujan, Maluku, Ambon, hujan,” ujar Amran.
Amran juga mengeklaim jika pemerintah telah melakukan persiapan mencukupi cadangan pangan sejak dua tahun lalu untuk menghadapi potensi kemarau ekstrem pada tahun 2026.
“Insyaallah, kami sudah persiapkan dua tahun sebelumnya mengantisipasi El Nino dan La Nina,” tuturnya.
Mentan RI itu menyatakan, cadangan pangan saat ini tercatat jauh melebihi kapasitas gudang yang dimiliki oleh pemerintah, yakni mencapai 4,5 juta ton sehingga dalam kondisi aman.
“Stok kita banyak, masih melimpah. Kenapa? Kapasitas gudang hanya 3 juta, tapi stok kita 4,5 juta ton. Jadi, aman,” katanya.
Lebih lanjut, Amran optimis terhadap program ketahanan pangan nasional yang sedang berjalan. Ia yakin target kemandirian pangan dapat dicapai dalam beberapa waktu ke depan.
“Tinggal dua bulan, InsyaAllah, di bawah kepemimpinan Pak Prabowo, Bapak Presiden kita yang kita cintai, swasembada berkelanjutan,” ucapnya.
Sebagai informasi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan periode 2026-2027 di 529 Zona Musim (ZOM) atau 61,08 persen wilayah Indonesia berpotensi mengalami kemunduran.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) di samudra sekitar Indonesia sehingga berdampak pada berkurangnya curah hujan.
Teuku Faisal Fathani Kepala BMKG menjelaskan pemantauan anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 Samudra Pasifik pada akhir bulan Agustus 2026 sebesar +2,83 dengan nilai indeks ENSO periode Juli-Agustus-September (JAS) sebesar +2,63 yang mengindikasikan El Nino sangat kuat. Sementara di Samudra Hindia, tercatat indeks IOD bulan Agustus +0,376 dan berpeluang menuju fase positif hingga akhir tahun.
“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” ujarnya dalam jumpa pers ‘Prediksi Musim Hujan’ di Jakarta, Selasa (22/9/2026).(wld/iss/ham)
