Seorang diplomat Eropa menegaskan dirinya bersama rombongan diplomatik menjadi korban serangan sekelompok warga Israel bertopeng di Tepi Barat, Palestina. Pernyataan itu disampaikan untuk membantah pernyataan Benjamin Netanyahu Perdana Menteri Israel yang menyangkal laporan serangan tersebut.
“Faktanya jelas. Kami diserang,” kata diplomat yang identitasnya tidak disebutkan itu, seperti dikutip laporan kantor berita Anadolu, Minggu (18/10/2026).
Diplomat tersebut juga menanggapi kritik Netanyahu yang menyebut rombongan diplomatik tidak berkoordinasi dengan militer Israel sebelum melakukan kunjungan.
Menurutnya, Israel tetap memiliki tanggung jawab atas keamanan di Area B Tepi Barat yang diduduki. Ia pun mempertanyakan mengapa para diplomat dan warga yang sedang memanen buah zaitun harus menghadapi serangan.
Sebelumnya, kantor Netanyahu meminta publik berhati-hati dalam menyikapi laporan serangan terhadap diplomat Eropa di dekat Ramallah. “Tuduhan serius membutuhkan bukti yang serius,” demikian pernyataan kantor Netanyahu.
Pihak Netanyahu mengakui adanya rekaman video yang memperlihatkan sejumlah orang bertopeng menghadang kendaraan diplomatik. Namun, mereka menilai rekaman tersebut belum cukup untuk menjelaskan keseluruhan kronologi maupun memastikan siapa yang bertanggung jawab.
Serangan itu terjadi di dekat Kota Taybeh, sebelah timur Ramallah, ketika rombongan diplomat Eropa melakukan kunjungan selama musim panen zaitun.
Rombongan tersebut terdiri atas konsul Prancis dan Belgia, seorang perwakilan Polandia, serta sejumlah pejabat Gereja Katolik.
Dalam kejadian itu, sekelompok warga Israel bertopeng menghadang rombongan. Salah satu kendaraan konsuler Belgia juga mengalami kerusakan setelah kaca jendelanya dipecahkan.
Militer Israel menyatakan telah memulai penyelidikan bersama kepolisian untuk mengusut kejadian tersebut.
Namun, berdasarkan laporan radio militer Israel, tentara dan polisi baru tiba di lokasi sekitar tiga jam setelah menerima informasi posisi rombongan dan rekaman serangan yang dikirim beberapa menit setelah kejadian.
Di sisi lain, Avigdor Lieberman Ketua Partai Yisrael Beiteinu dari kubu oposisi mengkritik Netanyahu bersama menteri pertahanan dan menteri keamanan nasional Israel, yang dinilainya gagal menghentikan serangan oleh warga Israel di wilayah pendudukan.
Lieberman memperingatkan bahwa kegagalan menangani kekerasan tersebut dapat semakin mengurangi dukungan internasional terhadap Israel. Serangan oleh warga Israel terhadap masyarakat Palestina dan harta benda mereka sendiri, dilaporkan meningkat sejak musim panen zaitun dimulai pada awal Oktober 2026. (bil/ham)
